Mempunyai
anak yang susah makan adalah masalah tersendiri bagi orang tua. Apalagi jika
anak yang susah makan ini, berada di masa pertumbuhan, usia 1-6 tahun. Pada
banyak kasus, orang tua yang merasa sudah berusaha maksimal, akhirnya menyerah.
Lalu memberi anaknya susu formula khusus yang dirancang untuk anak susah makan.
Mereka beranggapan susu ini sangat bergizi, apalagi harganya mahal. Produsennya
berani bilang, susu mereka mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi anak. Tentu
pernyataan ini salah. Banyak zat gizi pada makanan yang tak bisa diganti oleh
susu.
Sebagai
ibu dari dua balita, saya pernah mengalami hal yang sama. Saya juga sering
bertemu dengan orang tua yang anaknya susah makan. Belajar dari pengalaman si
sulung, Khalisa, yang pernah mengalami 'episode susah makan', disini saya ingin
berbagi tips, yang Alhamdulillah, berhasil mengubahnya menjadi anak yang 'mau
makan'. Memang bukan proses yang instan, butuh waktu. Tapi saya bersyukur
karena saya tidak mengambil jalan pintas dengan memberinya banyak susu formula.
Berikut saya
jabarkan usaha-usaha saya dalam memperbaiki pola makan Khalisa :
1. Syarat pertama, anak harus ASI eksklusif.
Anak
ASI eksklusif, umumnya lebih mudah menerima rasa makanan, karena ia sudah
familiar dengan rasa ASI yang berubah setiap hari
sesuai makanan apa yang dikonsumsi ibunya. Bila anak tidak ASI eksklusif, masih
berpeluang untuk meningkatkan selera makannya. Ibu harus
belajar mengolah makanan lebih variatif. Ada banyak sekali
resep makanan MPASI, juga makanan keluarga yang bisa kita akses dengan mudah di
internet.
Waktu
Khalisa masih berusia tujuh bulan, saya beli buku resep MPASI. Awalnya masih rajin
buka buku resep, tapi lama kelamaan, dipadu dengan kemalasan juga, akhirnya
buku resep itu tertutup untuk selamanya, hahaha.
Tapi
bukan berarti saya langsung kasih Khalisa MPASI instan ya. Saya tetap kasih
dia MPASI homemade, yang penting tiap hari menunya
diganti-ganti. Kalau hari ini bubur nasi ayam wortel, besoknya bubur nasi ikan
bayam, besoknya lagi, ayam bayam, besoknya lagi, ikan wortel. Saya lihat isi
kulkas, yang penting tiap hari ada itemnya yang berubah.Ibarat baju, pintar-pintar
kita saja buat padu padannya. Oh ya, saya selalu kasih bawang putih ke dalam
bubur Khalisa. Selain membuat gurih, bawang putih punya khasiat untuk
meningkatkan kekebalan tubuh. Cukup 1 butir dalam buburnya, yang dimasak untuk
3 kali makan, pagi-siang-sore.
Saya
juga beri sedikit garam di BUBUR Khalisa. Awalnya saya menuruti anjuran pada
banyak buku MPASI anak, untuk tidak memberi garam pada bubur baby Khalisa.
Tapi diperhatikan, kok Khalisa makannya sedikit. Walhasil, saya coba masukkan
sedikit garam, eh, makan Khalisa jadi banyak. Dengar-dengar…panduan WHO membolehkan
anak mengkonsumsi gulgar dengan dosis terbatas. Nah lho!
2. Ibu
mengolah makanan dengan lebih variatif, tanpa micin.
Mulai
umur setahun, Khalisa selalu menolak disuapin bubur. Dia malah senang kalau
saya sodori nasi utuh. Kata ibu saya, sudah saatnya Khalisa makan nasi. Supaya
tidak repot, sekalian Khalisa makan dengan menu yang sama dengan makanan kami
sekeluarga. Ow..ow..ow... senangnya
saya dengan petuah nenek Khalisa, soalnya itu mengurangi satu
kesibukan saya, yang tiap hari harus bangun pagi untuk buat buburnya, xixixi.
Tapi
oh tapi, kesenangan Khalisa makan nasi utuh, membuat saya harus putar otak
tiap hari, masak makanan keluarga, yang bisa dimakan Khalisa. Jangan
terlalu pedaslah, jangan asam, jangan kebanyakan garam. Tapi It's Ok, untuk anak, apa sih yang
enggak? Pengalaman saya yang mulai belajar masak setelah menikah, saya beli
satu buku resep yang isinya menu 30 hari. Nah, saya coba memasak
menu baru yang sumbernya dari buku resep itu, minimal seminggu
sekali di luar resep keluarga yang sumbernya turun temurun . Saya kadang
menelpon ibu dan mertua saya, untuk bertanya resep andalan mereka.
Oh
ya, saya jarang pakai penyedap dalam masakan. paling banter sebulan sekali
itupun kalau situasi darurat aja. Trus kalau ada yang berpikir, micin
enggak, tapi r***o,m****o, boleh, jangan dong. Apapun namanya, selama buatan
pabrik dan ada iklannya di TV, tetap dikategorikan penyedap, yang pasti berbahaya
bagi kesehatan. Balita masih pada tahap 'belajar makan'. Bila makanan bervetsin
itu kita beri pada balita maka akan 'menipu' lidahnya tentang rasa
makanan yang benar. Ujung-ujungnya dia hanya mau makan makanan yang diberi
penyedap. Penggunaan vetsin walaupun sedikit jika dilakukan tiap hari,
berbahaya! Relakah anda, jika nantinya, di usia 10 atau 15 tahun, anak anda
terkena kanker? Atau daya tahan tubuhnya lemah, sering sakit?
Ketika
menulis postingan ini, saya baru bertemu langsung dengan ibu yang memberi
penyedap pada bubur bayinya, dengan alasan supaya si anak mau makan. Sama
fatalnya, saya punya teman yang sudah 7 tahun menikah belum punya anak, karena di
masa kecilnya sering makan mie instan yang isinya full vetsin. Jadi,
berpikirlah berkali-kali sebelum menaruh penyedap ke makanan kita.
3. Bisa jadi, anak bosan dengan menu yang anda sajikan.
Nasi pakai telur dan
kecap, adalah makanan yang 'secara umum' disukai balita. Apalagi dimakan dengan
nasi hangat. Tapi kalau nasi telur dan kecap ini muncul tiga kali sehari di
tiap jam makannya, tentu dia bosan. Situasinya sama jika kita disuruh tiap
hari makan rendang. Walau rendang itu enak, pasti bosan juga, bukan?
Karenanya penting bagi bunda untuk lebih terampil mengolah
makanan. Enak tak selalu harus mahal.
Sejak umur 1 tahun,
Khalisa sudah saya beri makan nasi beserta lauk yang sama dengan yang saya
makan. Tak ketinggalan sambal sebagai penambah selera makan. Anak umur
setahun sudah makan sambal? Beberapa teman dan saudara saya heran
melihat piring makan Khalisa yang selalu diberi sambal. Maka saya jawab,"Seperti
juga kita, sambal ini penambah selera makan. Lagipula saya tidak menaruh banyak
sambal di setiap suapan nasi ke Khalisa. Hanya berupa olesan tipis di nasi.
Sekedar menambah aroma saja. Sambal yang saya masak, tidak pedas, tanpa
campuran cabe rawit. Di kemudian hari, Khalisa lebih banyak makan kalau
pakai sambal. Apapun yang saya masak hari itu, maka menu yang sama
juga dimakan Khalisa. Ada banyak sekali resep buku MPASI bagi balita. Nah,
saya sebagai ibu yang gaptek dan malas buka laptop (soalnya kalau mau buka
lepi cuma bisa malam hari, itupun
setelah Khalisa tidur, hehe), saya lebih sering memasak dengan resep
keluarga saja. caranya cuma satu, rajin-rajinlah bertanya pada ibu atau mertua
kita, juga orang lain yang anda tahu, bisa masak enak tanpa vetsin. Awalnya
saja yang repot karena harus selalu lihat catatan. Nanti lama-lama anda bisa
mahir tanpa lihat resep.
4. Mandi atau makan dulu.
Bagi sebagian bunda
yang punya balita, ada anggapan, lebih baik anak makan dulu, baru mandi. Mereka
beranggapan kalau baju anak kotor disaat makan, maka bisa sekalian dibersihkan
waktu dia mandi. Jadi sehabis mandi, anak sudah rapi jali (apalagi kalau
wajahnya dibedakin cemong sana-sini), makin gemas lihatnya…*eh*.
Dulu saya juga
begitu. Mengingat banyaknya pekerjaan rumah yang banyak, timbul asumsi bahwa
bila balita makan dulu baru mandi, bisa meringankan pekerjaan . Tapi yang ada,
Khalisa cuma mau makan 2-3 suap saja. Itupun pakai kejar-kejaranpemaksaan,
sampai pindah dari ujung gang ke gang lainnya karena Khalisa makan
sambil main. Durasi untuk Khalisa sekali makan, dengan maksimal 3
suap nasi tadi, bisa sampai 1 jam. Kalau dikali 3 untuk makan pagi-siang malam,
jadi 3 jam. Itu belum termasuk acara sebal-sebalan sama Khalisa ya?
Kalau Khalisa kurang makan di pagi hari, maka dia rewel di siang hari. Kalau
Khalisa kurang makan di siang hari, maka dia rewel di malam hari. Bila dia
kurang makan di malam hari, dia akan rewel tengah malam. Efeknya,
aku dan suamiku tak bisa tidur, dan khusus untuk suamiku, esoknya dia mengantuk
di kantor. Dual efeknya yang lain, 'quality time' kami sebagai suami istri jadi
berkurang karena kesibukanku mengurus Khalisa.
Secara alamiah manusia
pasti merasa lapar, tapi kenapa Khalisa cuma makan sedikit? Itu aneh, berarti
ada cara yang harus kuubah.
Kutemukan artikel di
internet yang bilang lebih bagus bagi manusia untuk mandi dulu, baru makan. Kucoba
menerapkan hal yang sama pada Khalisa. Alhamdulillah, berhasil!
Logikanya adalah,
jika balita sudah mandi, dia siap melakukan apapun, termasuk makan. Badannya
segar, popoknya sudah diganti, bajunya sudah bersih, tentu dia akan berselera
makan. Contoh lainnya bisa bunda terapkan pada diri sendiri. Bagaimana kalau
bunda baru bangun pagi,belum cuci muka, celana basah karena ngompol (cuma pengandaian, kok J),
tahi mata masih lengket, dan pas mata terbuka, langsung disodori sepiring
nasi.
Lantas jika ada yang bilang 'kerjaan bakal nambah
karena setiap makan, baju balita pasti kotor',
maka kita bisa
mensiasati dengan cara melapisi dada bayi dengan alas dari karet (banyak
dijual murah). Apakah memakan waktu yang lama? Berdasarkan pengalaman saya,
tidak! Kalau sudah mandi, biasanya Khalisa bisa makan dengan cepat. Mandi lebih
dahulu membuat ia lapar hingga makan lebih lahap.
Total waktu mulai
dari mandi sampai selesai makan, hanya setengah jam. Sementara jika Khalisa
saya suruh makan dulu baru mandi, bisa makan waktu 1 jam, karena dia harus
diajak main keluar baru mau makan. Istilahnya, sudah keliling komplek 1 jam,
tapi dia cuma makan 3 suap. Lagipula, mandi sesudah makan, bisa buat
perut kembung, lho. Setelah makan, suhu tubuh manusia meningkat karena
sedang mengolah makanan. Jika setelahnya kita mandi, maka suhu tubuh yang
tadinya meningkat, bisa turun drastis, hingga berakibat perut kembung.
Kalau masih ragu dengan pernyataan saya, boleh tanya ke Mbah Google, tapi
jangan tanya toko sebelah. *eh*
5. Teori psikologi Rhonda Byrne.
Percayakah bunda?
Bahwa setiap kata-kata yang kita tujukan ke anak adalah doa? Kalau masih tidak yakin,
silakan cari buku-buku parenting dan membacanya sampai habis. Di sana akan anda
dapati, seringnya orang tua 'memberi label' pada anak, akan membuat anak justru
semakin dekat dengan label itu.
Misalnya balita anda
susah makan. Minimal tiga kali sehari anda mengatakan, "Kamu susah banget
kalau makan, Bunda capek, tahu!", percayalah, dia akan susah makan. Hal
yang sama terjadi jika anak nakal dan sering dibilang, "Kamu kok nakal
banget!" Maka anak kita akan bertambah nakal dari hari ke hari.
Lalu apa hubungannya
dengan Rhonda Byrne? Nah, disini saya ingin menjelaskan pentingnya kalimat
afirmasi positif, yang bisa kita tujukan pada si anak yang susah makan.
Kalimat afirmasi
positif, adalah sejenis kalimat pengharapan, sugesti, yang kita tanamkan pelan-pelan
ke anak. Bisa dilakukan ketika si anak sedang tenang, atau menjelang tidur. Kalimat
afirmasi ini, bisa untuk diri sendiri, bisa juga untuk orang lain, dalam hal
ini, anak kita. Cara ini memang tidak instan. Saya sendiri, selain melakukan
usaha yang sudah saya sebutkan di atas, perlu waktu hampir dua bulan mensugesti
Khalisa setiap hari, supaya dia mau makan. Kalimat sugesti ini
harus bernada positif, dan diucapkan lemah lembut ke anak. Cara ini sangat
ampuh jika dilakukan sambil memeluk anak, lho.
6. Bersabar.
Kita ingin anak kita
doyan makan. Tapi oh tapi, anakku
susah makan. Badannya juga kurus, sering sakit. Dari sini timbul asumsi,
daripada dia sakit, lebih baik dia dipaksa makan. Alhasil, balita umur dua
tahun, dijejali sepiring nasi. Anaknya nangis-nangis, tetap aja si ibu kalap nyuapin.
Soalnya kalau anak makan sedikit, terus dia sakit, kadang suami suka
nanyain, "Ma, kok anak kita sering sakit? Kamu kali, kurang telaten kasih
makannya."
Ditodong pertanyaan
begini, istri mana yang gak cemberut.
Hayoo...ngaku bapak-bapak yang pernah tanya itu ke istrinya.
Maka tiap acara makan selalu menegangkan. Karena ibu berpikir, biarlah anak
dipaksa yang penting dia makan. Padahal tak harus selalu begitu.
Pengalaman saya
sendiri, awal cara ini saya terapkan, Khalisa tidak spontan langsung mau
makan. Tapi saya belajar untuk mengurangi kata-kata pelabelan yang
malah membuatnya sedih. Kita saja kalau sedang sedih, malas makan, begitu juga
dengan anak-anak. Jadi, ketika dia makan, siapkan segunung sabar, jangan
marah-marah. Melihat Bunda yang jarang marah, tentu anak senang. Pelan tapi
pasti, selera makannya pasti datang.
7. Mungkin dia mau makan sendiri
Sudah enam cara
dilakukan, tapi anak masih ogah makan ya? Tiap nasi atau bubur yang
disuap, selalu dilepeh. Masak yang sehat, enak, bersih, sudah. Sabar
juga sudah. Berarti ada satu kemungkinan lagi. Mungkin Khalisa mau makan
sendiri.
Disuap
berulang-ulang tetap nolak, akhirnya saya berinisiatif memberi sendok makan
pada Khalisa. Bisa juga menyodorkannya sepiring kecil nasi yang sudah
dicampur lauk. Singkirkan duri ikan (jika ada). Ide ini timbul begitu saja,
karena saya lihat baby Khalisa, suka pegang sendok makan. Ya sudah,
sekalian saja sendok itu saya sodorkan ke Khalisa. Dia mau!
Walau meja makan dan
lantai berserak,tapi saya senang melihat Khalisa menyuapkan sendiri ke
mulutnya, nasi yang telah susah payah dia ambil dari piring.
Baiklah Bunda,
sekian tips dari saya guna mengatasi anak yang susah makan. Cara ini tidak
instan, perlu banyak bersabar. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar