Laman

Jumat, 29 April 2016

Bila Anak Susah Makan


Mempunyai anak yang susah makan adalah masalah tersendiri bagi orang tua. Apalagi jika anak yang susah makan ini, berada di masa pertumbuhan, usia 1-6 tahun. Pada banyak kasus, orang tua yang merasa sudah berusaha maksimal, akhirnya menyerah. Lalu memberi anaknya susu formula khusus yang dirancang untuk anak susah makan. Mereka beranggapan susu ini sangat bergizi, apalagi harganya mahal. Produsennya berani bilang, susu mereka mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi anak. Tentu pernyataan ini salah. Banyak zat gizi pada makanan yang tak bisa diganti oleh susu.
Sebagai ibu dari dua balita, saya pernah mengalami hal yang sama. Saya juga sering bertemu dengan orang tua yang anaknya susah makan. Belajar dari pengalaman si sulung, Khalisa, yang pernah mengalami 'episode susah makan', disini saya ingin berbagi tips, yang Alhamdulillah, berhasil mengubahnya menjadi anak yang 'mau makan'. Memang bukan proses yang instan, butuh waktu. Tapi saya bersyukur karena saya tidak mengambil jalan pintas dengan memberinya banyak susu formula.
Berikut saya jabarkan usaha-usaha saya dalam memperbaiki pola makan Khalisa :
1.      Syarat pertama, anak harus ASI eksklusif.
Anak ASI eksklusif, umumnya lebih mudah menerima rasa makanan, karena ia sudah familiar   dengan rasa ASI yang berubah setiap hari sesuai makanan apa yang dikonsumsi ibunya. Bila anak tidak ASI eksklusif, masih berpeluang untuk meningkatkan selera makannya. Ibu harus       belajar mengolah makanan lebih variatif. Ada banyak sekali resep makanan MPASI, juga makanan keluarga yang bisa kita akses dengan mudah di internet.
Waktu Khalisa masih berusia tujuh bulan, saya beli buku resep MPASI. Awalnya masih rajin buka buku resep, tapi lama  kelamaan, dipadu dengan kemalasan juga, akhirnya buku resep itu tertutup untuk selamanya,  hahaha.
Tapi bukan berarti saya langsung kasih Khalisa MPASI instan ya. Saya tetap kasih dia   MPASI homemade, yang penting tiap hari menunya diganti-ganti. Kalau hari ini bubur nasi ayam wortel, besoknya bubur nasi ikan bayam, besoknya lagi, ayam bayam, besoknya lagi, ikan wortel. Saya lihat isi kulkas, yang penting tiap hari ada itemnya yang berubah.Ibarat baju, pintar-pintar kita saja buat padu padannya. Oh ya, saya selalu kasih bawang putih ke dalam bubur Khalisa. Selain membuat gurih, bawang putih punya khasiat untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Cukup 1 butir dalam buburnya, yang dimasak untuk 3 kali makan, pagi-siang-sore.
Saya juga beri sedikit garam di BUBUR Khalisa. Awalnya saya menuruti anjuran pada banyak buku MPASI anak, untuk tidak memberi garam pada bubur baby Khalisa. Tapi diperhatikan, kok Khalisa makannya sedikit. Walhasil, saya coba masukkan sedikit garam, eh, makan Khalisa jadi banyak. Dengar-dengar…panduan WHO membolehkan anak mengkonsumsi gulgar dengan dosis terbatas. Nah lho!
     2. Ibu mengolah makanan dengan lebih variatif, tanpa micin.
Mulai umur setahun, Khalisa selalu menolak disuapin bubur. Dia malah senang kalau saya sodori nasi utuh. Kata ibu saya, sudah saatnya Khalisa makan nasi. Supaya tidak repot, sekalian Khalisa makan dengan menu yang sama dengan makanan kami sekeluarga. Ow..ow..ow... senangnya saya dengan petuah nenek Khalisa, soalnya itu  mengurangi satu kesibukan saya, yang tiap hari harus bangun pagi untuk buat buburnya, xixixi.
Tapi oh tapi, kesenangan Khalisa makan nasi utuh, membuat saya harus putar otak tiap hari, masak makanan  keluarga, yang bisa dimakan Khalisa. Jangan terlalu pedaslah, jangan asam, jangan kebanyakan  garam. Tapi It's Ok, untuk anak, apa sih yang enggak? Pengalaman saya yang mulai belajar masak setelah menikah, saya beli satu buku resep yang isinya     menu 30 hari. Nah, saya coba memasak menu baru yang sumbernya    dari buku resep itu, minimal seminggu sekali di luar resep keluarga yang sumbernya turun  temurun . Saya kadang menelpon ibu dan mertua saya, untuk bertanya resep    andalan mereka.
Oh ya, saya jarang pakai penyedap dalam masakan. paling banter sebulan sekali itupun kalau situasi darurat aja. Trus kalau ada yang berpikir, micin enggak, tapi r***o,m****o, boleh, jangan dong. Apapun namanya, selama buatan pabrik dan ada iklannya di TV, tetap dikategorikan penyedap, yang pasti berbahaya bagi kesehatan. Balita masih pada tahap 'belajar makan'. Bila makanan bervetsin itu kita beri pada balita  maka akan 'menipu' lidahnya tentang rasa makanan yang benar. Ujung-ujungnya dia hanya mau makan makanan yang diberi penyedap. Penggunaan vetsin walaupun sedikit  jika dilakukan tiap hari, berbahaya! Relakah anda, jika nantinya, di usia 10 atau 15 tahun, anak anda terkena kanker? Atau daya tahan tubuhnya lemah, sering sakit?
Ketika menulis postingan ini, saya baru bertemu langsung dengan ibu yang memberi penyedap pada bubur bayinya, dengan alasan supaya si anak mau makan. Sama fatalnya, saya punya teman yang sudah 7 tahun menikah belum punya anak, karena di masa kecilnya sering makan mie instan yang isinya full vetsin. Jadi, berpikirlah berkali-kali sebelum menaruh penyedap ke makanan kita.
3. Bisa jadi, anak bosan dengan menu yang anda sajikan.
Nasi pakai telur dan kecap, adalah makanan yang 'secara umum' disukai balita. Apalagi dimakan dengan nasi hangat. Tapi kalau nasi telur dan kecap ini muncul tiga kali sehari di tiap jam makannya, tentu dia bosan. Situasinya sama jika kita disuruh tiap hari makan rendang. Walau rendang itu enak, pasti bosan juga, bukan?    Karenanya penting bagi bunda untuk   lebih terampil mengolah makanan. Enak tak selalu harus mahal.
Sejak umur 1 tahun, Khalisa sudah saya beri makan nasi beserta lauk yang sama dengan yang saya makan. Tak ketinggalan sambal sebagai penambah selera makan. Anak umur setahun sudah makan sambal? Beberapa teman dan saudara  saya heran melihat piring makan Khalisa yang selalu diberi sambal. Maka saya jawab,"Seperti juga kita, sambal ini penambah selera makan. Lagipula saya tidak menaruh banyak sambal di setiap suapan nasi ke Khalisa. Hanya berupa olesan tipis di nasi. Sekedar menambah aroma saja. Sambal yang saya masak, tidak pedas, tanpa campuran cabe rawit. Di kemudian hari, Khalisa lebih banyak makan kalau pakai sambal.   Apapun yang saya masak hari itu, maka menu yang sama juga dimakan Khalisa. Ada banyak sekali resep buku MPASI bagi balita. Nah, saya sebagai ibu yang gaptek dan malas buka laptop (soalnya kalau mau buka lepi cuma bisa malam hari, itupun setelah Khalisa tidur, hehe), saya lebih sering memasak dengan  resep keluarga saja. caranya cuma satu, rajin-rajinlah bertanya pada ibu atau mertua kita, juga orang lain yang anda tahu, bisa masak enak tanpa vetsin. Awalnya saja yang repot karena harus selalu lihat catatan. Nanti lama-lama anda bisa mahir tanpa lihat resep.
4. Mandi atau makan dulu.
Bagi sebagian bunda yang punya balita, ada anggapan, lebih baik anak makan dulu, baru mandi. Mereka beranggapan kalau baju anak kotor  disaat makan, maka bisa sekalian dibersihkan waktu dia mandi. Jadi sehabis mandi, anak sudah rapi jali (apalagi kalau wajahnya dibedakin cemong sana-sini), makin gemas lihatnya…*eh*.
Dulu saya juga begitu. Mengingat banyaknya pekerjaan rumah yang banyak, timbul asumsi bahwa bila balita makan dulu baru mandi, bisa meringankan pekerjaan . Tapi yang ada, Khalisa cuma mau makan 2-3 suap saja. Itupun pakai kejar-kejaranpemaksaan, sampai pindah dari ujung gang ke gang lainnya karena Khalisa makan sambil  main. Durasi untuk Khalisa sekali makan, dengan maksimal 3 suap nasi tadi, bisa sampai 1 jam. Kalau dikali 3 untuk makan pagi-siang malam, jadi 3 jam. Itu belum termasuk acara sebal-sebalan sama Khalisa ya? Kalau Khalisa kurang makan di pagi hari, maka dia rewel di siang hari. Kalau Khalisa kurang makan di siang hari, maka dia rewel di malam hari. Bila dia kurang makan di malam hari, dia akan rewel tengah   malam. Efeknya, aku dan suamiku tak bisa tidur, dan khusus untuk suamiku, esoknya dia mengantuk di kantor. Dual efeknya yang lain, 'quality time' kami sebagai suami istri jadi berkurang karena kesibukanku mengurus Khalisa.
Secara alamiah manusia pasti merasa lapar, tapi kenapa Khalisa cuma makan sedikit? Itu aneh, berarti ada cara yang harus kuubah.
Kutemukan artikel di internet yang bilang lebih bagus bagi manusia untuk mandi dulu, baru makan. Kucoba menerapkan hal yang sama pada Khalisa. Alhamdulillah, berhasil!
Logikanya adalah, jika balita sudah mandi, dia siap melakukan apapun, termasuk makan. Badannya segar, popoknya sudah diganti, bajunya sudah bersih, tentu dia akan berselera makan. Contoh lainnya bisa bunda terapkan pada diri sendiri. Bagaimana kalau bunda baru bangun pagi,belum cuci muka, celana basah karena ngompol (cuma pengandaian, kok J), tahi mata masih  lengket, dan pas mata terbuka, langsung disodori sepiring nasi.
Lantas  jika ada yang bilang 'kerjaan bakal nambah karena setiap makan, baju balita pasti kotor',
 maka kita bisa mensiasati dengan cara melapisi dada bayi dengan alas dari karet (banyak   dijual murah). Apakah memakan waktu yang lama? Berdasarkan pengalaman saya, tidak! Kalau sudah mandi, biasanya Khalisa bisa makan dengan cepat. Mandi lebih dahulu membuat ia lapar hingga makan lebih lahap.
Total waktu mulai dari mandi sampai selesai makan, hanya setengah jam. Sementara jika Khalisa saya suruh makan dulu baru mandi, bisa makan waktu 1 jam, karena dia harus diajak main keluar baru mau makan. Istilahnya, sudah keliling komplek 1 jam, tapi dia cuma makan 3 suap. Lagipula, mandi sesudah makan, bisa buat perut  kembung, lho. Setelah makan, suhu tubuh manusia meningkat karena sedang mengolah makanan. Jika setelahnya kita mandi, maka suhu tubuh yang tadinya meningkat, bisa turun drastis, hingga berakibat perut   kembung. Kalau masih ragu dengan pernyataan saya, boleh tanya ke Mbah Google, tapi jangan   tanya  toko sebelah. *eh*
5. Teori psikologi Rhonda Byrne.
Percayakah bunda? Bahwa setiap kata-kata yang kita tujukan ke anak adalah doa? Kalau masih tidak yakin, silakan cari buku-buku parenting dan membacanya sampai habis. Di sana akan anda dapati, seringnya orang tua 'memberi label' pada anak, akan membuat anak justru semakin dekat dengan label itu.
Misalnya balita anda susah makan. Minimal tiga kali sehari anda mengatakan, "Kamu susah banget kalau makan, Bunda capek, tahu!", percayalah, dia akan susah makan. Hal yang sama terjadi jika anak nakal dan sering dibilang, "Kamu kok nakal banget!" Maka anak kita akan bertambah nakal dari hari ke hari.
Lalu apa hubungannya dengan Rhonda Byrne? Nah, disini saya ingin menjelaskan pentingnya kalimat afirmasi positif, yang bisa kita tujukan pada si anak yang susah makan.
Kalimat afirmasi positif, adalah sejenis kalimat pengharapan, sugesti, yang kita tanamkan pelan-pelan ke anak. Bisa dilakukan ketika si anak sedang tenang, atau menjelang tidur. Kalimat afirmasi ini, bisa untuk diri sendiri, bisa juga untuk orang lain, dalam hal ini, anak kita. Cara ini memang tidak instan. Saya sendiri, selain melakukan usaha yang sudah saya sebutkan di atas, perlu waktu hampir dua bulan mensugesti Khalisa setiap hari, supaya dia  mau makan. Kalimat sugesti ini harus bernada positif, dan diucapkan lemah lembut ke anak. Cara ini sangat ampuh jika dilakukan sambil memeluk anak, lho. 
6. Bersabar.
Kita ingin anak kita doyan makan. Tapi oh tapi, anakku susah makan. Badannya juga kurus, sering sakit. Dari sini timbul asumsi, daripada dia sakit, lebih baik dia dipaksa makan. Alhasil, balita umur dua tahun, dijejali sepiring nasi. Anaknya nangis-nangis, tetap aja si ibu kalap nyuapin. Soalnya kalau anak makan sedikit, terus dia sakit, kadang suami suka nanyain, "Ma, kok anak kita sering sakit? Kamu kali, kurang telaten kasih makannya."
Ditodong pertanyaan begini, istri mana yang gak cemberut. Hayoo...ngaku   bapak-bapak yang pernah tanya itu ke istrinya. Maka tiap acara makan selalu menegangkan. Karena ibu berpikir, biarlah anak dipaksa yang penting dia makan. Padahal tak harus selalu begitu.
Pengalaman saya sendiri, awal cara ini saya terapkan, Khalisa tidak spontan langsung mau makan.   Tapi saya belajar untuk mengurangi kata-kata pelabelan yang malah membuatnya sedih. Kita saja kalau sedang sedih, malas makan, begitu juga dengan anak-anak. Jadi, ketika dia makan, siapkan segunung sabar, jangan marah-marah. Melihat Bunda yang jarang marah, tentu anak senang. Pelan tapi pasti, selera makannya pasti datang.
7. Mungkin dia mau makan sendiri
Sudah enam cara dilakukan, tapi anak masih ogah makan ya? Tiap nasi atau bubur yang  disuap, selalu dilepeh. Masak yang sehat, enak, bersih, sudah. Sabar juga sudah. Berarti ada satu kemungkinan lagi. Mungkin Khalisa mau makan sendiri.
Disuap berulang-ulang tetap nolak, akhirnya saya berinisiatif memberi sendok makan pada Khalisa. Bisa juga menyodorkannya sepiring kecil nasi  yang sudah dicampur lauk. Singkirkan duri ikan (jika ada). Ide ini timbul begitu saja, karena saya lihat baby Khalisa, suka pegang sendok makan. Ya sudah, sekalian saja sendok itu saya sodorkan ke Khalisa. Dia mau!
Walau meja makan dan lantai berserak,tapi saya senang melihat Khalisa menyuapkan sendiri ke mulutnya, nasi yang telah susah payah dia ambil dari piring.
Baiklah Bunda, sekian tips dari saya guna mengatasi anak yang susah makan. Cara ini tidak    instan, perlu banyak bersabar. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar